Kamis, 13 Agustus 2026, saya datang ke Hotel Novotel Semarang di Jalan Pemuda. Tujuannya bukan sekadar menghadiri sebuah acara, tetapi mengikuti diskusi yang temanya terasa dekat dengan keseharian saya sebagai orang yang juga berkecimpung di dunia konten kreator.
Acara tersebut adalah Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Viral Boleh, Hoaks Jangan! Efek Hukum Konten Misleading Influencer & Media.”
Dari namanya saja, topik ini sudah terasa relevan dengan kehidupan kita hari ini. Hampir setiap hari kita melihat sesuatu yang viral di media sosial. Ada video yang tiba-tiba muncul di TikTok, potongan informasi yang beredar di WhatsApp, unggahan Instagram yang ramai dibicarakan, sampai berita yang kemudian dibagikan ulang oleh banyak akun. Kadang kita langsung percaya dan ikut membagikan, tanpa mengetahui informasi yang dibagikan itu benar atau hoaks.
Suasana Hotel Novotel Semarang sudah mulai dipenuhi peserta yang datang untuk mengikuti kegiatan. Berada di kawasan Jalan Pemuda, hotel ini terasa cukup mudah dikenali sebagai salah satu hotel yang berada di pusat Kota Semarang.
Begitu memasuki area hotel, suasana di luar yang cukup aktif perlahan berganti dengan atmosfer dalam ruangan yang lebih tenang. Pendingin udara membuat suasana terasa sejuk setelah perjalanan dari luar.
Saya sendiri datang dengan rasa penasaran. Bukan hanya karena topiknya, tetapi juga karena saya ingin melihat bagaimana persoalan konten misleading dibicarakan dari sudut pandang orang-orang yang sehari-hari berhadapan dengan informasi, media, maupun persoalan hukum di ruang digital.
Pagi itu, saya tidak datang dengan pikiran bahwa saya akan mendapatkan jawaban untuk semua persoalan media sosial. Saya hanya ingin mendengarkan. Dan ternyata, ada cukup banyak hal yang membuat saya berpikir ulang tentang kebiasaan sederhana yang selama ini sering kita lakukan: membagikan informasi.
Viral Tidak Selalu Berarti Benar
Salah satu materi yang disampaikan dalam FGD berasal dari IPDA Dodi Handoko, S.H., M.Kn., Panit I Unit 2 Subdit 3 Ditresiber Polda Jawa Tengah.
Materinya membahas bagaimana masyarakat memperoleh informasi di era digital dan bagaimana sebuah konten bisa menyebar begitu cepat. Ada satu gagasan yang menurut saya sederhana, tetapi sangat mengena. Viral adalah hasil. Akurasi adalah tanggung jawab.
Kalimat itu terasa relevan karena media sosial memang membuat segala sesuatu bergerak sangat cepat. Sebuah konten bisa dibuat dalam beberapa menit, kemudian mendapatkan views dalam jumlah besar. Setelah itu, orang lain mengunggah ulang. Influencer ikut membagikan. Media mengutip. Percakapan berpindah dari satu platform ke platform lainnya.
Pada akhirnya, sesuatu yang awalnya hanya sebuah unggahan bisa dianggap sebagai fakta oleh banyak orang. Masalahnya, kecepatan penyebaran tidak selalu berjalan seiring dengan kecepatan verifikasi. Kita bisa mendapatkan informasi dalam hitungan detik, tetapi untuk memastikan informasi itu benar terkadang membutuhkan waktu jauh lebih lama. Di situlah persoalannya.
Hoaks dan Misleading Itu Berbeda
Sebelumnya, saya mungkin termasuk orang yang cukup sederhana dalam melihat informasi keliru. Kalau tidak benar, saya menganggapnya hoaks dan nggak pernah membagikan ulang sebelum mengetahui sumber yang valid.
Namun dari diskusi tersebut, saya memahami bahwa ada perbedaan antara hoaks, misleading, dan opini. Hoaks adalah informasi palsu yang disampaikan seolah-olah sebagai fakta. Sementara misleading lebih rumit. Informasinya bisa saja memiliki bagian yang benar, tetapi cara penyajiannya dapat membuat orang memahami sesuatu secara keliru.
Misalnya, sebuah foto memang benar-benar ada. Tetapi foto tersebut ternyata diambil beberapa tahun lalu dan kemudian digunakan untuk menggambarkan kejadian yang baru terjadi. Atau sebuah video memang benar, tetapi hanya diambil beberapa detik sehingga konteks sebelum dan sesudahnya hilang.
Bisa juga judul dibuat sedemikian rupa sehingga pembaca mengambil kesimpulan yang berbeda setelah membaca isinya. Di sinilah saya merasa misleading justru perlu mendapat perhatian lebih, karena sesuatu yang sepenuhnya palsu mungkin lebih mudah dicurigai. Tetapi sesuatu yang sebagian benar namun disajikan dengan konteks yang keliru bisa terlihat jauh lebih meyakinkan.
Ketika Satu Konten Menjadi Bola Salju
Dalam materi FGD, dijelaskan pula bagaimana sebuah konten dapat menimbulkan efek berantai.
Awalnya hanya sebuah unggahan. Kemudian viral, setelah itu di-repost oleh influencer, dikutip media, masuk ke TikTok, Instagram, X, WhatsApp, dan akhirnya semakin banyak orang melihatnya.
Karena muncul berulang kali, masyarakat bisa mulai menganggapnya sebagai fakta. Padahal, pengulangan nggak mengubah informasi yang salah menjadi benar. Saya jadi teringat betapa seringnya kita menemukan kalimat seperti, “Sudah banyak yang posting, berarti benar.”
Padahal seharusnya justru sebaliknya. Semakin besar sebuah informasi menyebar, semakin penting bagi kita untuk memeriksanya. Sebab dampaknya juga semakin besar. Informasi yang salah bisa menimbulkan kepanikan, keresahan, kesalahpahaman, bahkan merugikan orang yang menjadi objek pemberitaan atau konten tersebut.
Lima Pertanyaan Sebelum Percaya
Ada bagian lain dari materi yang menurut saya paling mudah diterapkan oleh siapa saja, bahkan oleh orang yang tidak bekerja di dunia media. Sebelum percaya atau membagikan informasi, kita bisa mengajukan lima pertanyaan sederhana.
Pertama, siapa sumbernya?
Apakah sumber informasi tersebut jelas dan bisa dipercaya?
Kedua, apakah ada datanya?
Sebuah pernyataan seharusnya memiliki dasar atau bukti yang bisa diperiksa.
Ketiga, apakah informasinya terlalu emosional?
Jika sebuah unggahan sengaja membuat kita marah, takut, atau panik, ada baiknya kita berhenti sejenak sebelum mempercayainya.
Keempat, apakah ada buktinya?
Foto, video, maupun pernyataan perlu dilihat konteksnya.
Kelima, apakah media lain memberitakan hal yang sama?
Membandingkan informasi dari beberapa sumber dapat membantu kita mendapatkan gambaran yang lebih utuh.
Lima pertanyaan tersebut sebenarnya sederhana, nggak membutuhkan alat khusus, nggak membutuhkan kemampuan jurnalistik. Hanya membutuhkan kemauan untuk berhenti sebentar sebelum menekan tombol share.
Pulang Membawa Kebiasaan Baru
Menjelang acara selesai, suasana diskusi terasa meninggalkan satu pesan yang cukup kuat bagi saya. Di era informasi yang serba cepat, kita memang nggak mungkin menghentikan arus konten. Kita juga nggak harus menjauhi media sosial, yang perlu diubah mungkin justru cara kita menggunakannya.
Sebagai pembuat konten, kita punya tanggung jawab terhadap apa yang kita buat dan sebarkan. Sebagai pengguna media sosial, kita juga punya tanggung jawab terhadap apa yang kita teruskan kepada orang lain.
Saya keluar dari Hotel Novotel Semarang dengan suasana yang berbeda dibanding ketika datang pagi tadi. Udara di luar terasa lebih hangat dibandingkan ruangan hotel yang sejuk. Suara kendaraan kembali terdengar di sekitar Jalan Pemuda. Kota Semarang tetap berjalan seperti biasa.
Tetapi ada satu kebiasaan yang rasanya ingin saya bawa pulang dari acara itu. Nggak terburu-buru percaya dan nggak terburu-buru membagikan. Sebab sekarang saya semakin memahami bahwa menjadi bagian dari dunia digital bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan perhatian.
Bukan hanya tentang views, engagement atau bukan pula tentang siapa yang paling cepat mengunggah.
Kadang, justru menjadi orang yang mau berhenti sebentar untuk memastikan kebenaran adalah pilihan yang jauh lebih bijak. Karena pada akhirnya, viral boleh saja. Kreatif tentu boleh. Tetapi akurasi dan tanggung jawab tetap harus berjalan bersama.
Dan mungkin, sebelum bertanya “Apakah konten ini bisa viral?”, ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk kita ajukan, “Apakah konten ini benar?”




Tidak ada komentar:
Posting Komentar