Senin, 10 Agustus 2026

Pagi di Pantai Bandengan: Pilates, Angin Laut, dan Mata yang Lelah

Ada pagi tertentu ketika tubuh rasanya hanya ingin diajak bernapas lebih panjang. Nggak perlu studio dengan lantai kayu, cermin besar, atau musik yang mengalun dari speaker. Cukup selembar matras, pasir pantai, suara ombak, dan angin yang sesekali membuat ujung jilbab bergerak ke sana-kemari.

Pagi itu saya membawa matras ke Pantai Bandengan, Jepara. Saya mencari tempat yang cukup nyaman, membentangkan matras, lalu duduk sebentar menghadap laut.

Matahari belum terlalu tinggi, tapi cahaya pagi jatuh di permukaan air dan membuatnya berkilauan setiap kali terkena ombak.

Di sekitar saya, pantai perlahan mulai ramai. Ada keluarga yang datang membawa perlengkapan bermain, beberapa orang duduk di tepi pantai, sementara anak-anak sudah lebih dulu berlarian mengejar air.

Saya menarik napas panjang. Udara laut masuk perlahan. Rasanya menyenangkan. Hari itu saya ingin melakukan mat Pilates dengan suasana yang sedikit berbeda.

Bukan mengejar berapa banyak gerakan yang bisa diselesaikan, melainkan menikmati setiap tarikan napas dan gerakan tubuh dengan perlahan.

Gerakan pertama masih terasa ringan. Saya duduk di atas matras, meluruskan kaki, kemudian mulai mengatur posisi tubuh. Tarik napas, kemudian perut dikencangkan dan bahu dibuat rileks, lalu tubuh mulai bergerak mengikuti ritme yang saya tentukan sendiri.

Namun Pilates di pantai ternyata nggak sesederhana yang saya bayangkan. Pasir di bawah matras nggak sepenuhnya rata. Ketika kaki diangkat, tubuh harus sedikit lebih keras mencari keseimbangan. Tangan beberapa kali menekan matras agar posisi tetap stabil.

Belum lagi angin dan ujung jilbab sesekali bergerak mengenai wajah. Saya sempat tertawa kecil ketika sebuah gerakan harus diulang karena posisi tubuh tidak lagi stabil.

Tetapi justru di situlah serunya. Nggak harus sempurna. Saya terus melanjutkan beberapa gerakan sambil sesekali mendengar suara ombak yang datang dan pergi.

Tubuh mulai terasa hangat. Napas juga mulai lebih teratur. Sampai kemudian, tanpa saya sadari, ada sesuatu yang berubah. Bukan pada kaki atau pinggang. Melainkan pada mata.

Awalnya cuma terasa sepele Saat itu saya sedang berhenti sejenak setelah beberapa gerakan. Saya duduk di atas matras dan memandang laut. Cahaya matahari yang memantul di permukaan air terasa semakin terang.

Saya memicingkan mata. Sekali. Lalu berkedip beberapa kali. Awalnya saya pikir hanya karena terlalu lama menatap laut. Jadi saya mengalihkan pandangan ke arah pepohonan di belakang. Namun mata terasa mulai sepet dan nggak nyaman.

Saya mengusap bagian bawah mata dengan jari. Bukannya hilang, beberapa saat kemudian muncul sensasi perih yang membuat saya spontan memejamkan mata.

"Ah, kenapa mata malah begini?"

Padahal tubuh justru sedang terasa enak setelah bergerak. Saya mencoba membuka mata kembali. Bisa, tetapi rasanya nggak senyaman beberapa menit sebelumnya. Mata terasa lebih berat dan saya jadi nggak ingin terlalu lama menatap ke arah laut.

Di situlah saya baru menyadari sesuatu yang sering luput ketika bepergian. Selama ini kalau ke pantai, yang ada di kepala saya biasanya sunscreen, air minum, topi, pakaian ganti, dan tentu saja ponsel untuk mengambil foto.

Mata? Sering kali baru diingat ketika mulai terasa nggak nyaman. Padahal aktivitas di luar ruangan, paparan angin, cahaya terang, dan kondisi tertentu dapat membuat mata terasa kering atau nggak nyaman. Gejalanya bisa berupa mata sepet dan perih.  Dan pagi itu saya mengalaminya sendiri.

Saya sebenarnya masih ingin melanjutkan sesi Pilates. Masih ada beberapa gerakan yang belum saya lakukan. Tetapi setiap kali mencoba melihat ke depan, mata terasa ingin segera terpejam. Akhirnya saya berhenti.

Matras yang sejak tadi menjadi tempat berlatih saya jadikan tempat duduk. Kaki saya luruskan. Kedua tangan saya letakkan di samping tubuh. Untuk beberapa saat, saya nggak melakukan apa-apa. Hanya duduk. Memejamkan mata dan mendengarkan suara ombak.

Byur. Air bergerak menuju bibir pantai. Lalu kembali lagi ke laut. Aneh juga rasanya. Saya datang ke pantai untuk bergerak, tetapi justru mata yang membuat saya belajar berhenti.

Saya minum air putih dan mencoba lebih sering berkedip. Saya juga menghindari menatap langsung permukaan laut yang sedang memantulkan cahaya.

Setelah beberapa saat, saya teringat ada Insto Dry Eyes di dalam tas. Botol kecil itu memang bukan barang yang sengaja saya siapkan khusus untuk Pilates. Saya sudah terbiasa menyimpannya di pouch, terutama ketika banyak melakukan aktivitas di luar rumah.

Kali ini saya mengeluarkannya. Saya kemudian tetesin Insto Dry Eyes sesuai petunjuk penggunaannya.

Insto Dry Eyes mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose dan digunakan untuk memberikan efek pelumas seperti air mata serta membantu mengatasi gejala mata kering.

Setelah menggunakannya, saya nggak langsung kembali melakukan gerakan. Saya tetap memberi mata waktu untuk beristirahat. Buat saya, bagian ini justru penting. Karena menggunakan tetes mata bukan berarti mata boleh terus dipaksa bekerja tanpa jeda.

Momen yang tadinya ingin aktif malah menjadi lebih tenang Beberapa saat kemudian, rasa nggak nyaman di mata terasa lebih ringan. Saya membuka mata perlahan. Kali ini saya nggak langsung menatap laut.

Saya melihat ke bawah, merapikan posisi matras, lalu memandang sekitar. Anak-anak masih bermain. Orang-orang masih sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ombak masih datang dengan suara yang sama. Nggak ada yang berubah. Hanya saya yang mulai lebih memperhatikan tubuh sendiri.

Saya akhirnya melanjutkan Pilates, tetapi nggak sebanyak yang sudah saya bayangkan sebelumnya. Beberapa gerakan saya lakukan dengan lebih pelan. Ketika mata mulai terasa lelah, saya nggak memaksakan diri.

Saya juga semakin sadar untuk berkedip dan memberi jeda pada mata. Sesi pagi itu akhirnya nggak menjadi sesi olahraga yang panjang. Tetapi justru menjadi salah satu sesi yang paling saya ingat. Sebab biasanya kita mudah sekali menganggap gejala kecil sebagai sesuatu yang bisa ditunda.

Mata sepet?

"Nanti juga hilang."

Mata perih?

"Mungkin cuma kena angin."

Mata terasa berat?

"Kurang tidur kali."

Padahal ketika gejala itu mulai mengganggu aktivitas, tubuh sebenarnya sedang memberi tanda.

Dan pagi itu, tanda tersebut datang tepat ketika saya sedang menikmati sesuatu yang saya tunggu-tunggu. Ternyata menikmati pantai juga perlu tahu kapan berhenti Setelah selesai, saya menggulung matras yang sudah dipenuhi sedikit pasir.

Saya membersihkan tangan, minum lagi, kemudian memakai kacamata hitam sebelum berjalan meninggalkan area pantai. Matahari sudah semakin tinggi. Cahaya yang tadi terasa lembut kini jauh lebih terang.

Saya kembali menoleh ke laut. Kali ini hanya sebentar. Nggak perlu memaksakan diri untuk terus menatapnya. Dari pengalaman itu saya belajar bahwa menjaga mata ternyata sesederhana memberi perhatian ketika tubuh mulai memberi tanda.

Kalau mata mulai terasa sepet, perih, atau cepat lelah, saya nggak ingin lagi menganggapnya sebagai gangguan kecil yang harus ditahan sampai selesai beraktivitas.

Saya akan berhenti sebentar. Mengurangi paparan yang membuat nggak nyaman. Lebih sering berkedip. Memberi waktu untuk mata beristirahat. Dan bila diperlukan, memilih tetes mata yang memang ditujukan untuk membantu mengatasi gejala mata kering. Untuk saya, salah satunya adalah Insto Dry Eyes.

Bukan berarti setiap rasa nggak nyaman pada mata harus langsung dianggap sebagai mata kering. Kalau keluhan terasa berat, terus berulang, penglihatan terganggu, atau nggak  membaik, tentu lebih baik mencari bantuan tenaga kesehatan daripada menganggapnya sepele.

Pagi itu saya datang ke Pantai Bandengan dengan satu rencana sederhana, Pilates sambil menikmati laut. Saya pulang membawa cerita yang sedikit berbeda. Tentang pasir yang membuat keseimbangan lebih sulit. Tentang angin yang membuat jilbab terus bergerak. Tentang suara ombak yang ternyata bisa menjadi musik paling sederhana. Dan tentang mata yang diam-diam meminta perhatian ketika saya terlalu asyik menikmati suasana.

Mungkin memang begitu cara tubuh mengingatkan kita. Nggak selalu lewat rasa sakit yang hebat. Kadang hanya lewat rasa sepet. Sedikit perih. Atau mata yang tiba-tiba terasa berat. Kelihatannya sepele.

Tetapi kalau sampai membuat kita harus menghentikan momen yang sedang dinikmati, mungkin sudah waktunya berhenti menganggapnya sepele.

Karena pagi itu, yang mengubah jalannya sesi Pilates saya bukan gerakan yang sulit atau tubuh yang kelelahan. Melainkan mata. Dan sejak saat itu, setiap kali memasukkan matras ke dalam tas untuk berolahraga di luar ruangan, saya juga teringat satu hal sederhana:

Jangan tunggu mata benar-benar nggak nyaman baru mulai memperhatikannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar