Kamis, 31 Oktober 2019

Singgah Singgih Menari dan Hangatnya Lereng Telomoyo

"Setiap desa punya potensinya masing-masing yang kelak akan menjadi warisan yang berharga dan bikin bangga." 
Matahari nyaris berada di atas kepala sehingga membuat suasana Dusun Tanon, hari itu sedikit panas saat aku bersama teman blogger lainnya mengunjungi dusun Tanon yang berlokasi di desa Ngrawan, Kecamatan Getasan pada tanggal 12 Oktober 2019 yang lalu. Walaupun begitu udara terasa segar mungkin karena banyak jejeran pohon dan letaknya yang berada di lereng gunung Telomoyo, membuat desa yang terkenal dengan sebutan desa menari terasa lebih sejuk. 


Peresmian Festival Lereng Telomoyo 2019

Senyum ramah dan jabatan tangan warga yang hangat menyambut kedatangan kami, membuat suasana terlihat sangat akrab. 
Suasana desa Telomoyo saat itu terlihat ramai, karna sedang ada acara Festival Lereng Telomoyo 2019 yang digelar selama dua hari, pada tanggal 12 dan 13 Oktober 2019.

Kang Tris, Sosok Inspiratif Dari Kaki Lereng Telomoyo

Festival Lereng Telomoyo ini merupakan festival yang digelar kedua kalinya, dan menjadi wadah bagi pelaku seni juga menjadi sebuah harapan yang terwujud dari warga Desa Menari, khususnya Kang Trisno, sosok inspiratif yang berkontribusi memajukan desa juga menjadi penggagas Festival Lereng Telomoyo. "Mari terus berkarya dan lebih mencintai lingkungan kita," ujarnya. Semua kegiatan yang ada di desa ini dilakukan dengan cara yang sangat sederhana. 


Kang Tris berjuang dari modal dua ratus ribu sampai sekarang desa yang ia tinggali sudah banyak berbenah diri menjadi lebih produktif, karena desa ini tumbuh dan berkembang juga didukung oleh masyarakatnya juga. Uniknya, untuk mengatasi ketika ada konflik di desanya, Kang Tris justru menyelesaikan konflik itu secara bersama-sama bukan menghindarinya.

Menurut Kang Tris, tantangan terberat membangun desa menari ini, yaitu :
1. Sumber daya masyarakat  (SDM) yang masih kurang, karena kebanyakan masyarakat sekitar memiliki pendidikan menengah ke bawah.
2. Sentralistik.
3. Infrastruktur yang belum merata.
4. Menjaga konsep budaya agar sesuai dengan yang ia bangun dari awal.

Sejauh mata memandang, desa ini sangat bersih, nyaman dan memiliki pesona budaya yang menarik, bahkan sudah dilakukan secara turun temurun, yaitu menari. Menari merupakan budaya yang harus terus dijaga dan dilestarikan, tentu saja hal ini akan menjadi warisan yang berharga dan membuat bangga. 

Aku masih saja berdecak kagum mendengar banyak kisah unik dari desa yang ternyata masih berada di kabupaten Semarang loh, padahal perjalanan dari kota Semarang ke desa menari ini nyaris dua jam. Tapi semua terbayar tuntas dengan pemandangan yang menyejukan mata.

Karena rasa penasaran, aku menyambangi tempat penari merias wajah sebelum mereka tampil, mataku langsung terbelalak melihat mereka merias dengan lihainya. Tangan mereka sigap mengambil siwid kering dan pidi basah kemudian diulas ke wajah mereka. Layaknya perias profesional mereka terlihat sangat ahli, satu ulasan saja tanpa mengulang dan hasilnya sempurna! 
"Setiap pertunjukan menari saya selalu make-up sendiri, kan udah terbiasa dari kecil," ujar seorang penari sambi merias wajahnya.
Ternyata belajar merias diri sudah mereka lakukan sejak kecil, karena itu merupakan salah satu modal seorang penari, selain bisa menari tentunya. Sepertinya aku harus belajar dari mereka hahaha.

Merias Diri Sebelum Menari

Tari Geculan Bocah merupakan t
arian yang diadaptasi dari tari Warok, sehingga gerakan pada Tari Geculan Bocah sebagian besar diambil dari Tari Warok. Setiap gerakan tari ini mengusung gerakan dunia anak-anak yang riang dan jenaka. 

Dalam tarian ini juga ditambahkan dengan permainan tradisional anak-anak seperti perang-perangan, guyonan anak dan penari anak juga dirias dengan dandanan yang lucu sehingga penonton sengat terhibur. Durasi tarian ini cukup lama, tapi sama sekali nggak ngebosenin, bahkan aku duduk paling depan loh untuk menikmati tarian ini sampai selesai. 


Suara musik gamelan mengiringi tarian dari penari anak-anak yang terdengar begitu indah, gerakan penari juga tampak luwes, wajah-wajah ceria tersirat dari para penari, wajar saja kalau desa Tanon dijuluki desa menari sejak Februari 2012. Warga juga sudah menjadikan menari bagian dari hidupnya. Terlihat sangat jelas mereka menari dengan suka cinta dan tanpa beban. 

Tak hanya suguhan tarian, desa Tanon juga menyuguhkan Pantomim yang memukau. Pantomim sendiri merupakan gerakan tubuh yang memberikan pesan terhadap penonton. Tanpa suara, tapi mampu bercerita.

Pertunjukan Pantomim
Setelah menikmati makan siang dengan menu nasi jagung lengkap dengan sayur urap, aku bersama teman blogger lainnya kemudian berjalan ke arah sebelah kanan, perjalanan yang sedikit menanjak, dengan jalan kaki aku bisa menikmati sajian pemandangan yang cantik, sementara itu terlihat dari kejauhan gunung Telomoyo yang menjulang dengan gagah. Perpaduan romansa alam yang sempurna.

Tari Topeng Ayu

Setelah berhenti di sebuah depan rumah, kami disajikan tarian Topeng Ayu yang dibawakan oleh penari remaja 
dari Sanggar Krido Budi Utomo. Merupakan tari yang muncul di kawasan 5 gunung di Jawa Tengah. Tarian ini juga sering disebut tari Ndyakan. Nama asli tarian ini dari kata "Toto Lempeng Irama Kenceng" karena tarian ini berisikan barisan penari dengan gerak yang tertata rapih bersama iringan musik yang menghentak. Di Tanon, sendiri tarian ini dibranding ulang menjadi Tari Topeng Ayu dari kata "Toto Lempeng Hayuning Urip.

Tanah merah yang berdebu dan panas yang mulai terasa tapi tak menyurutkan semangatku menyaksikan tari topeng ayu yang memang memiliki daya tarik tersendiri, tak jarang dari kami juga mengabadikan momen kebersamaan dengan penari topeng ayu yang ramah. 

Setelah itu, kami beranjak melihat sapi, konon sapi di desa ini terkenal gemuk-gemuk. Sepanjang jalan aku menjumpai seorang Nenek yang sedang menjemur cengkeh, konon cengkeh yang ia kumpulkan akan dijual perkilonya tujuh puluh lima ribu, lumayan ya?

Desa Tanon memang jauh dari kota, tapi tak menyurutkan warga desanya untuk terus kreatif dan produktif, dengan menari desa ini bisa tetap menjaga kearifan lokal. Dan, sebelum beranjak pulang wajib banget buat mampir ke pasar Srawung yang menjual hasil kebun dari desa Tanon sekedar membeli oleh-oleh. Di Pasar ini selain bisa melihat hasil kebun, kami juga bisa berinteraksi langsung dengan penjualnya loh. Seru banget ya?

Pasar Srawung

Desa Menari ini 
merupakan kampung berseri Astra yang pertama kali di Jawa Tengah. Kampung Berseri Astra itu program kontribusi sosial yang berkelanjutan diimplementasikan kepada masyarakat dengan konsep pengembangan empat pilar dibidang kesehatan, pendidikan, lingkungan dan kewirausahaan. 


Bakti Sosial
Terbukti empat pilar itu sangat membantu desa ini, ada posko kesehatan, untuk pendidikan juga Astra memberikan beasiswa sampai jenjang S1, begitupun lingkungan di desa ini jauh lebih baik dan bersih. Melalui program kampung berseri Astra ini masyarakat dan perusahaan berkolaborasi untuk bersama -sama mewujudkan wilayah yang bersih, sehat, cerdas dan produktif sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang setiap hari mata pencarian mereka sebagai petani dan peternak.

Belajar Gamelan
Kehadiran Astra di desa Tanon menjadikan anak-anak semangat untuk mengejar impian dan untuk hidup yang lebih baik lagi, membuat mereka memiliki mimpi. Semoga akan banyak sosok seperti Kang Tris yang bisa menginspirasi dan berjuang untuk desanya agar lebih maju dan berkembang, walaupun berada jauh dari perkotaan. Dan, desa Tanon ini sudah membuktikannya, banyak wisatawan yang datang untuk menikmati seni dan budaya dari desa yang memiliki banyak pesona ini.



Ah, senang sekali bisa mampir untuk belajar menari dengan kesungguhan hati dan menerima kehangatan mereka yang ada di kaki gunung Telomoyo. Perjalanan kali ini membuat aku bersyukur dan lebih mencintai budaya. Semoga kelak bisa menyambanginya untuk belajar lagi karena #KitaSATUIndonesia jadi harus mendukung #IndonesiaBicaraBaik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar