Tips dan Hal yang Harus Diperhatikan Saat Mengunjungi Desa Wisata di Bali

Bosan dengan liburan yang itu-itu saja? Tak perlu khawatir, saat ini Teman-teman bisa menikmati liburan dengan suasana desa yang asri dan nyaman saat mengunjungi desa wisata di Bali. Tak hanya itu teman-teman juga bisa berbaur dengan warga setempat sambil mengenal budayanya, dijamin liburan jadi istimewa dan beda banget. Apalagi kalau liburannya bareng sama orang tersayang, eeh... 

Berapa tahun belakangan ini, Pemerintah Provinsi Bali sedang gencar-gencarnya mengembangkan desa wisata. Pengembangan desa wisata ini dianggap perlu sebagai salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, sekaligus melestarikan adat budaya, alam dan memajukan pariwisata di Bali. 

Dengan dibentuk menjadi desa wisata, diharapkan dapat menggulirkan perekonomian di desa sehingga memperkecil arus urbanisasi dan juga membantu meningkatkan pendapatan warga setempat. Bali sendiri memilki banyak desa wisata yang terkenal, beberapa diantaranya adalah Desa Panglipuran, Desa Trunyan, Desa Tenganan, Desa Batubulan dan banyak lainnya. 


Tata Bangunan Desa Penglipuran yang teratur. Sumber Foto: 
www.wartadewata.com


Desa-desa wisata tersebut memilki keunikan masing-masing yang menjadikannya daya tarik utama bagi wisatawan. Seperti misalnya Desa Panglipuran yang memilkiki tata bangunan yang unik dan juga terpilih sebagai desa terbersih di dunia setara dengan Desa Terapung Giethoorn, Overijssel, Belanda dan Desa Mawlynnong, Meghalaya, India, wah pastinya menyenangkan bisa menikmati lingkungan yang bersih. 

Lalu ada juga Desa Trunyan yang diketahui sebagai desa tertua di Bali dimana terdapat tradisi turun-temurun untuk tidak menguburkan mayat maupun membakarnya. Di desa ini mayat tersebut diletakkan begitu saja hingga membusuk disebuah bernama “Seme Wayah”, sehingga teman-teman bisa menemukan tengkorak dan tulang belulang manusia berjejer di tempat itu. 

Ada juga Desa Tenganan yang merupakan Bali Aga, yaitu sebuah desa yang masih memegang teguh pola hidup tradisional yang sudah ada sejak ribuan tahun.

Kuburan di Desa Trunyan. Sumber Foto: www.wisatabaliutara.com

Bali memang terkenal dengan keindahan alam dan juga budayanya. Masyarakat Bali yang sebagian besar menganut agama Hindu sangat mengedepankan ajaran keharmoniasan. Di Bali juga kita akan sering menemukan berbagai macam bentuk perayaan adat yang tentunya teman-teman harus tahu apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan.

Hmm, sudah belum tentukan desa mana yang akan teman-teman masukkan dalam list tujuan liburan ke Bali? Nah, sambil tentukan pilihan, teman-teman bisa lho cari tiket promo dan hotelnya di Traveloka biar liburan lebih hemat.

Berikut ada sedikit tips dan beberapa hal yang harus teman-teman ketahui sebelum berkunjung kesana. 

Menaati Peraturan dan Adat Istiadat yang Berlaku


Wisatawan yang sedang berkunjung ke Desa Penglipuran. 
Sumber Foto: www.dasarbali.wordpress.com

Ada pepatah menyebutkan, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Dimanapun berada teman-teman harus tetap menghormati dan mengikuti peraturan yang berlaku. Dan hal itu pun berlaku pada saat teman-teman melakukan jalan-jalan atau sedang berkunjung ke desa wisata ini. Banyak peraturan yang sebaiknya teman-teman taati agar masyarakat setempat tidak tersinggung dan teman-teman pun akan aman. 

Beberapa peraturannya adalah :

1. Tidak Menginjak atau melangkahi canang
Canang atau sesajen yang tiap hari dipersembahkan oleh umat Hindu di Bali guna menghormati pencipta alam pasti bakal sering teman-teman jumpai. Jika tidak sengaja terinjak, meminta maaf lah, paling tidak dari dalam hati. 

2. Tidak Memasuki tempat suci sembarangan
Di beberapa tempat di desa wisata memiliki bangunan suci, dimana saat ingin memasukinya diharuskan memakai selendang (anteng) dan kain. Selain wisatawan, umat Hindu lokal pun juga mematuhi adat tersebut. Khusus para wanita yang sedang mengalami menstruasi (datang bulan) juga dilarang masuk ke tempat-tempat suci tersebut. Jika ingin memasuki bangunan tersebut sebaiknya minta izin terlebih dahulu kepada warga sekitar atau pengurusnya.

3. Tidak Membuang Sampah Sembarangan
Kebersihan di desa wisata sangat di prioritaskan oleh warganya untuk menjaga kesucian tempat mereka. Oleh karena itu, jika ingin membuang sampah, lebih baik sediakan kantong plastik khusus, janganlah membuang sampah sembarangan karena peraturan di desa tersebut sangatlah ketat, dengan begitu teman-teman bisa medukung kebersihan di desa wisata. 

4. Tidak Menyentuh atau mengotori 
Di Bali banyak area-area yang disucikan, misalnya pohon-pohon atau batu yang dianggap sakral dan disembahyangi, biasanya ditandai dengan kain kotak-kotak berwarna hitam putih. Jangan sampai teman-teman buang air kecil sembarangan atau buang sampah di dekat tempat tersebut ya. 

Mengetahui Waktu Yang Tepat Untuk Berkunjung

Saat hendak berwisata kesana hendaknya pada waktu seperti saat akan menjelang Hari Raya Galungan atau setelah Hari Raya Galungan. Hari raya ini merupakan hari raya besar bagi Agama Hindu yang akan diperingati setiap 6 bulan sekali di Bali. Pada saat itu Anda akan menemukan sarana dan adat kental khas Bali di setiap rumah yang ada disana. Lengkap dengan pakaian khas adat Bali yang digunakan oleh masyarakat setempat. 

Kemudian sebaiknya hindari datang saat Nyepi karena masyarakat Hindu dilarang keluar dari rumah/hotel, menyalakan api dan menyalakan lampu, otomatis kunjungan ke desa wisata pun akan di tutup. Beberapa desa wisata di Bali juga sering mengadakan pertunjukan kesenian maupun festival. Misalnya festival Perang Pandan yang diadakan di Desa Tenganan yang diselenggarakan pada bulan Juli itu. Teman-teman bisa cari tau infonya dari internet sebelum mengunjungi desa tersebut agar kunjungan lebih menarik dan berkesan. 


Festival Perang Pandan di Desa Tenganan. Sumber Foto: www.guideinbali.com

Perhatikan Lokasi Desa Wisata  

Sebagian besar lokasi desa wisata di Bali jauh dari pusat keramaian. Misalnya, Desa Penglipuran di daerah Bangli yang berjarak 45 Km dari kawasan Kuta, Denpasar. Maka dari itu rencanakan dengan baik jadwal perjalanan, jangan sampai kemalaman di jalan karena hanya ada sedikit penginapan di daerah tersebut. 

Jika memang tidak ada rencana menginap di sekitar Desa Wisata, teman-teman bisa mencari penginapan yang berlokasi strategis di kawasan Kuta, salah satunya adalah Bali Kuta Resort. Dari Bali Kuta Resort, teman-teman hanya butuh waktu sekitar 1 jam untuk menuju Desa Penglipuran di daerah Bangli dan sekitar 2 jam untuk menuju Desa Tenganan, di daerah Karangasem. Tidak Diperkenankan Membawa Kendaraan Bermotor
Untuk menjaga ketenangan dan keasrian desa wisata di Bali dari polusi udara, para wisatawan tidak diperkenankan membawa kendaraan seperti mobil atau motor, sehingga harus berjalan kaki untuk mengelilingi desa. 

Namun tenang saja, disana tersedia lahan parkir bagi para wisatawan yang membawa kendaraan. Satu lagi yang harus teman-teman perhatikan, saat membawa kendaraan menuju desa wisata atau tempat lainnya di Bali, hindari membunyikan klakson saat ada perayaan yang digelar di jalan karena hal itu akan mengganggu dan membuat masyarakat setempat tersinggung. 

Nah, semoga informasinya bermanfaat dan bisa menjadi rekomendasi buat teman-teman memilih tempat liburan yang nggak biasa.

Komentar

  1. Dan ndesonya, aku belum pernah ke Bali sekalipun :( Jadi mupeng baca tips nya mbak Tia nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, bisa jadi rekomendasi next liburan hihi

      Hapus
  2. waah itu kuburan di desa trunyan ngingetin sama kete ketsu dan londa di Tana Toraja.

    BalasHapus
  3. "Mau Liburan, tapi tidak memiliki kendaraan dan bingung mencari tempat sewa kendaraan.
    Jangan khawatir Share Trans adalah Sewa kendaraan online yang bisa menjawab masalah anda"
    cek website kami www.sharetrans.id atau bisa hubungi kontak kami 085738009350/087865097776
    #SewaTidakPerluRibet

    BalasHapus

Posting Komentar